Profil Nagari

NAGARI HALABAN

Kira kira pada permulaaan abad ke 7 Nenek moyang kami meninggalkan Nagari Limo Kaum di Daerah Pariangan Padang Panjang. Nenek kami tersebut terdiri dari dua rombongan. Rombongan pertama terdiri dari Nenek Ganti Nan Mudo, Nenek Lompong, Nenek Juaro, Nenek Jonang, Nenek Untung, Nenek Mandai (Wanita), dan Nenek Mola (Wanita). Rombongan kedua terdiri dari Dt. Rajo Bosa, Dt. Rajo Nan Panjang, Dt. Paduko Alam, Dt. Rajo Bilang, Dt. Sinaro Nan Bagak, Dt. Rajo Dindo dan  Dt. Rajo Mangkuto.

Dari Limo kaum rombongan pertama terus ke Tabek sawah tangah (yang masih dalam kenagarian Limo Kaum). Dari sinilah dimulai perjalan panjang oleh Nenek moyang kami tersebut yaitu menuju ke Koto Lalang yang terletak dipinggir timur Nagari Tanjuang Bonai (Kec. Lintau Buo sekarang).

Tidak lama kemudian Nenek moyang kami melanjutkan perjalan mereka ke Kalo Kalo. Dari Kalo Kalo Nenek kami meneruskan perjalan mereka ke Tabek Panjang yaitu suatu tempat masuk Kenagarian Lubuk Jantan  melintasi Batang Sinamar dan sampai di Tanjung Lansek serta Pamasian

Kemudian setelah beberapa lama mereka tinggal di Pamasian ini, maka mereka melanjutkan perjalanan mereka kearah utara sambil menelusuri Batang sinamar, setelah sampai pada suatu anak sungai yaitu anak batang sinamar dikaki sebuah bukit (bagian dari bukit barisan) berhentilah mereka untuk melepaskan lelah.

Ada yang ingin menyeberang Batang sinamar untuk menuju sebuah bukit (Gunung Sago sekarang), ada yang ingin menelusuri batang sinamar untuk melanjutkan perjalanan dan ada pula yang ingin kembali ketempat asal mereka yaitu daerah Pamasian.

Setelah terjadi musyawarah dan mufakat maka perselisihan ini bisa diatasi, sehingga diambil suatu keputusan yaitu satu rombongan akan memudiki batang sinamar menuju utara dan satu rombongan akan meyebera angi batang sinamar menuju gunung sago dan serombongan lagi kembali ke Pamasian. Namun untuk sementara waktu mereka tetap tinggal bersama dilokasi ini yaitu dilereng bukit dipinggir anak sungai tersebut.

Dipinggang bukit ini mereka pertama kali membuat sebuah taratak tempat tinggal, oleh karena tempat ini terletak diketinggian, maka akhirnya taratak ini dinamakan dengan Taratak Tinggi, jadi Taratak inilah yang mula mula dibuat oleh nenek moyang kami .Berhubung karena tempat ini terletak pada tanah yang ketinggian, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat persawahan, maka akhirnya tempat ini ditinggalkan oleh   rombongan nenek kami menuju tempat yang telah disepakati dahulu.

Satu rombongan Nenek Ganti Nan Mudo, Nenek Lompong memudiki batang sinamar arah ke utara, satu rombongan Nenek Juaro, Nenek Jobang menyeberangi batang sinamar menuju gunung sago dan rombongan nenek Untung kembali ke Pamasian.

Nenek Untung sesampai di Pamasian kemudian bergelar Dt. Sati yang ditunjuk sebagai Pucuk Bulat di  Pamasian. Sedangkan sebagian kecil rombongan Nenek Untung melanjutkan perjalan ke arah utara sehingga di Halaban bergelar Dt. Ganti Nan Sati.

Sedangkan rombongan yang memudiki batang sinamar sesampai di pinggiran Batang sinamar ( saat ini bernama Lubuk Lompek), salah seorang dari rombongan yaitu  nenek Lompong  menyeberangi Batang sinamar, setelah sampai diseberang Nenek lompong membuat sebuah koto yaitu Lakuak Koto.

Setelah Nenek Lompong menyeberang, maka teman temannya Nenek Juaro dan Nenek Ompang melanjutkan perjalanan mudik batang sinamar, tak lama kemudian mereka melihat sebuah bukit disebelah kiri mereka, lalu mereka berjalan menuju bukit tersebut. Setelah sampai dipuncak bukit tersebut ternyata bukit tersebut merupakan sebuah dataran yang luas, lalu mereka sepakat untuk membuat sebuah koto di tempat ini.sehingga tempat ini diberi nama dengan Lambuk Tuo.

Sedangkan Nenek Ganti nan mudo, Nenek Jonang, Nenek Mandai dan Nenek Mola yang akan melanjutkan perjalanan menyeberangi Batang sinamar menuju Gunung sago sesampai disuatu tempat yang datar juga membuat sebuah koto yang diberi nama dengan Atas koto.

Setelah beberapa lama kemudian maka nenek nenek kami tersebut berkumpul kembali di Koto Lambuak Tuo, karena disinilah tempat yang mereka anggap baik untuk perkampungan. Lalu mereka membuat rumah , menetap dan berketurunan sampai mereka beranak pinak.

Disamping Nenek kami yang masuk dari arah timur, juga ada Nenek kami yang masuk dari arah barat yaitu Nenek kami yang menelusuri Lereng Gunung Sago. Diantara Nenek kami yang menelusuri lereng gunung sago yaitu Dt. Rajo Bosa, Dt. Rajo Nan Panjnag, Dt. Paduko Alam (Dt. Indo Marajo), Dt. Rajo Bilang, Dt. Sinaro Nan Bagak, Dt. Rajo Dindo dan Dt. Rajo Mangkuto.

Rombongan Nenek kami ini berasal dari Limo Kaum Pariangan Padang Panjang. Dari Limo kaum mereka meneruskan perjalanan ke Tabek sawah Tangah dan sesampai di sini mereka menetap untuk sementara waktu, sementara rombongan Dt. Ganti Nan Mudo telah jauh lebih dahulu meninggalkan Tabek Tangah Sawah. Untuk mengejar ketinggalan dari rombongan dari barat ini, maka mereka membuat jalan pintas dengan menelusuri lereng gunung sago, dengan harapan semoga mereka dapat bertemu kembali dengan Nenek nenek yang telah berangkat lebih dahulu. Setelah rombongan ini sampai di Batu Bulat, maka mereka beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Balai Tangah. Disini rombongan menetap untuk sementara waktu guna mencari perbekalan.

Taklama ke mudian rombongan berangkat lagi menuju Tanjung Bonai. Di Tanjung Bonai rombongan menetap pula untuk sebentar. Dari Tanjung Bonai mereka melanjutkan perjalanan menuju utara yaitu ke Pauh Tinggi dan terus ke suatu tempat yang bernama Banio Tarang. Di Banio Torang ini menetap pula untuk sementara waktu Dt. Rajo Nan Panjang ,Dt, Rajo Mangkuto.dan Dt. Rajo Bilang dan Dt. Sinaro Nan Bagak berhenti pula diarah utara Banio Tarang, sedangkan Dt. Rajo Basa dan Dt. Paduko Alam (Dt. Indo Marajo)  dan Dt. Rajo Dindo meneruskan perjalanannya kearah utara lagi, sehingga waktu itu masing masing nenek kami telah berusaha untuk mencari penghidupan mereka masing masing dengan membuat sawah dan peladangan.

Beberapa waktu kemudian dari Banio Tarang Dt. Rajo Nan Panjang melihat asap orang berkebun di lereng gunung sago arah utara, melihat asap tersebut, maka timbul niat dari Dt. Rajo Nan Panjang untuk meninjau asap tersebut, maka langsung beliau menelusuri jalan ke arah asap tersebut. Sesampai beliau disana ternyata Dt. Rajo Bosa sedang membuat unggun untuk persawahan dan peladangan sehingga kemudian tempat ini diberi nama dengan Dusun Kabun. Oleh karena rasa persaudaraan antara nenek kami tersebut sangat tinggi maka diantara mereka selalu saling mengunjungi, sehingga jalan antara Banio tarang dengan Kabun menjadi lanyah karena saban hari dan saban waktu mereka lalui, sehingga daerah tersebut dinamakan silanyah.

Setelah Nenek kami yang datang dari arah timur dan yang datang dari arah barat telah mendapatkan penghidupan, maka mereka kembali mengadakan hubungan kekeluargaan. Pertemuan mereka dilaksanakan di Lambuak Tuo sehingga baik Nenek kami yang datang dari Timur maupun yang datang dari barat sepakat untuk membuat perkampungan. Sehingga Lambuk Tuo mereka jadikan sebagai pusat perkampungan. Walaupun Lambuk Tuo telah dijadikan sebagai pusat perkampungan, namun mereka tetap mengulangi tempat tempat dimana mula mula mereka tempati.

Dibukit Lambuk Tuo inilah Nenek kami lama sekali untuk menetap, karena disinilah mereka berketurunan (berkembang biak). Pada saat itulah mereka mencari tempat  atau daerah daerah untuk dijadikan sawah atau tanah ulayat.

Setiap hari mereka berjalan kesetiap pelosok dengan tidak lupa membawa kapas. Setiap ada tempat yang mereka anggap baik untuk dijadikan sawah atau ladang, maka mereka tinggalkan kapas yang dibawa tersebut sebagai tanda dan bahkan ada diantara mereka menggunakan baju dari kapas. Apabila kapas baju tersebut tersangkut pada salah satu ranting kayu, maka tanah sekitar tempat kapas tersangkut tersebut sudah menjadi hak bagi mereka yang empunya kapas tersebut. Apabila ada diantara mereka yang melewati daerah yang telah ada tanda tersebut, maka berarti daerah tersebut telah dikuasai oleh mereka yang telah dahulu menemukan daerah tersebut, maka dengan demikian maka mereka akan mencari tempat yang lain lagi yang belum ada yang menguasai.

Dek langik basentak naik bumi basentak turun, maka orang bertambah ramai juga , maka dengan niat baik Nenek Ganti Nan Mudo membuat koto di Koto Baru, dan Nenek Juaro membuat koto di Koto Tinggi. Tidak lama setelah itu Nenek Ganti Nan Mudo membuat sebuah lagi koto di Kapalo Koto.

Setelah Koto koto ini selesai dibuat, maka sepakatlah mereka untuk membuat sebuah Balai pertemuan yang digunakan untuk tempat bermusyawarah, lalu dipilih salah satu tempat yang baik yaitu di Atas laban. Lalu dengan bekerja sama dan semangat gotong royong dibuatlah balai tersebut yang merupakan sebuah tempat yang terdiri dari dinding tanah, atap langit dan dinding tanah, sehingga balai ini dinamakan dengan Balai Tanah

Pada saat itu dimusyawarahkan pula untuk membentuk dusun, sehingga disepakati bahwa dusun terdiri dari :

1. Dusun Lareh Nan Panjang.

Adapun batas batas dari Dusun Lareh Nan Panjang adalah sebelah Gunung Sago, sebelah Timur Batang Sinamar Sebelah Utara Lokuak Silung dan Selatan Batang Longuang dan terdiri dari Lambuk, Padang Tangah, Lompek bagian Utara, Aia Baba dan Alang Laweh

2. Dusun Lompek

Adapun batas batas dari Dusun Lompek adalah sebelah Barat Lokuak Pulai, sebelah Timur Lubuak Tapiang (Batang Sinamar) Sebelah Utara Batang Languang dan Selatan Guguak Sorai (Baliak Ngalau) dan terdiri Lompek bahagian Selatan dan Atas Laban

3. Dusun Kabun

Adapun batas batas dari Dusun Kabun adalah sebelah Barat Gunuang Sago, sebelah Timur Lokuak Pulai Sebelah Utara Sei Dareh dan Selatan Banio Torang dan terdiri  Kabun dan Kapalo Koto

Pada awal abad ke 14 Raja Adat di Pagaruyung memberikan perintah kepada Raja Ibadat supaya disetiap daerah dibentuk Raja Raja kecil. Hal ini bertujuan untuk memudahkankan dan lancarnya sistem pemerintahan, maka dengan dasar tersebut disetiap daerah melaksanakan musyawarah penbentukan Raja raja kecil di masing masing daerah atau nagari, maka dengan adanya perintah tersebut maka Nenek kami melaksanakan musyawarah untuk pembentukan raja raja kecil sebagaimana yang dimaksud oleh Raja adat tersebut.

Pertama yang dipikirkan oleh Nenek kami yaitu masalah nama Nagari yang akan didirikan, maka suatu ketika datanglah utusan dari Syehk Bantan yang bernama Pakiah Badangkiang. Beliau adalah teman akrab dari Syehk Bantan. Dahulu ketika di Tabek Panjang Syehk Bantan sudah pernah mengajarkan Bismillahirrohmanirrohim kepada Nenek kami dan bahkan telah dipasihkan pada saat berada di Pamasian. Pada saat itu didapati oleh Pakiah Badangkiang Nenek Juaro sedang memerah susu sapi. Lantas beliau mengatakan HALAL LABAN. Halal artinya baik/boleh, Laban artinya Susu. Jadi Halal Laban artinya Susu yang baik/halal. Dari sinilah nama Halaban yang semula berasal dari kata Halal Laban, sehingga saat itu  ditetapkanlah Halaban  sebagai nama dari nagari Halaban.

Setelah selesai menyusun sturuktur adat di Nagari Halaban, maka beberapa waktu kemudian datanglah beberapa orang Datuk dari daerah seberang Batang Sinamar diantaranya Dt. Kondo menemui Dt. Rajo Mudo dan menyapaikan maksud kedatangannya kepada Dt. Rajo Mudo dan Nenek Juaro. Adapun maksud kedatangan beberapa orang datuk dari daerah seberang Sinamar adalah untuk menjemput Raja yang akan dijadikan sebagai Pucuak adat di daerah tersebut. Dan setelah dilaksanakan musyawarah antara Datuk dari daerah seberang Batang Sinamar dengan Datuk datuk yang ada di Nagari Halaban, maka diputuskan bahwa yang akan dijadikan Pucuak adat di daerah seberang Batang Sinamar adalah kaum dari  Dt. Paduko Alam (Dt. Indo Marajo). Dengan sangat rela dan senang hati sebagian dari kaum Dt. Paduko Alam (Dt. Indo Marajo) bersama Datuk Datuk yang lain melepas kepergian sebagian dari kaum Dt. Paduko alam (Dt. Indo Marajo). Dan sesampai di daerah seberang Batang Sinamar tersebut sesuai dengan kesepakatan awal dari Datuk Datuk tersebut, maka Dt. Paduko Alam dijadikan sebagai Pucuak Adat di daerah seberang Batang Sinamar tersebut.

Di nagari Halaban terdapat 40 orang  penghulu yang terdiri dari 11 orang  penghulu dari Pasukan Melayu, 11 Penghulu dari Pasukuan Piliang, 10 penghulu dari Pasukuan Bodi dan  8 orang penghulu dari Pasukuan Mandailing.

Adapun Nama nama penghulu dari Pasukuan Malayu tersebut terdiri dari :

  1. Dt. Rajo Mudo
  2. Dt. Rajo Nan Panjang   
  3. Dt. Nan Mudo
  4. Dt. Sampono Kayo
  5. Dt. Indo Marajo            
  6. Dt. Rajo Bosa
  7. Dt. Pdk. Simarajo
  8. Dt. Malano Kali
  9. Dt. Gonti Nan Sati
  10. Dt. Gindo Malano
  11. Dt. Mangkuto Sinaro                           

Adapun Nama nama penghulu dari PasukuanPiliang tersebut terdiri dari :

  1. Dt. Marajo
  2. Dt. Rajo Sampono
  3. Dt. Gindo Malano Pane
  4. Dt. Ponji alam
  5. Dt. Rajo Malano
  6. Dt. Rajo Mangkuto
  7. Dt. Sutan Marajo Lelo
  8. Dt. Gindo Marajo
  9. Dt. Bagindo Marajo Lelo
  10. Dt. Gindo Nan Panjang
  11. Dt. Tam Marajo

Adapun Nama nama penghulu dari Pasukuan Mandailing  tersebut terdiri dari :

  1. Dt. Lelo Anso
  2. Dt. Paduko rajo
  3. Dt. Rajo Penghulu
  4. Dt. Gindo Ratu
  5. Dt. Mangkuto Rajo
  6. Dt. Paduko bosa
  7. Dt. Ampono Marajo
  8. Dt. Paduko Nan Putiah

Adapun Nama nama penghulu dari Pasukuan Bodi tersebut terdiri dari :

  1. Dt. Rajo Bilang
  2. Dt. Sinaro Nan Tungga
  3. Dt. Rajo Dindo
  4. Dt. Sinaro Nan Bagak
  5. Dt. Paduko Sinaro
  6. Dt. Paduko Rajo lelo
  7. Dt. Gindo Sirajo
  8. Dt. Pangulu bosa
  9. Dt. Pangeran
  10. Dt. Ulak Sumano

Geografis

Nagari Halaban termasuk dalam wilayah Kecamatan Lareh Sago Halaban, sekaligus merupakan Nagari yang berada di perbatasan Kab. Lima Puluh Kota dengan Kab. Tanah Datar. Wilayahnya terletak pada 6° - 11° Lintang Utara serta berada pada keinggian 400 s/d 1000 meter dari permukaan laut. Jarak dari ibu kota Kecamatan 7 Km, dari Ibu kota Kabupaten Lima Puluh Kota adalah 28 Km, sedangkan dari Ibu Kota Propinsi Sumatera Barat lk 140 Km. Luas Nagari Halaban lk. 63 Km2, dengan batas – batas sebagai berikut :

Sebelah Timur                  : Berbatas dengan Nagari Ampalu

Sebelah Barat                    : Berbatas dengan Gunung Sago

Sebelah Selatan                : Berbatas dengan Kab. Tanah Datar

Sebelah Utara                    : Berbatas dengan Nagari Tanjung Gadang

Bentuk permukaan Nagari Halaban merupakan daerah perbukitan dan dataran yang bervariasi tingkat kemiringannya. Secara umum kemiringan wilayah Nagari Halaban dibagi atas kemiringan 8-15%, kemiringan 15-30%, kemiringan 30-45% dan kemiringan >45%. Dengan ketinggian 617 diatas permukaan laut.